Notaris 24 Januari 2024 • 7 menit baca

Perbedaan Akta Otentik dan Akta di Bawah Tangan

Dalam dunia hukum dan bisnis, Anda akan sering mendengar istilah 'akta otentik' dan 'akta di bawah tangan'. Meskipun keduanya berfungsi sebagai bukti tertulis, kekuatan hukum keduanya sangat berbeda.

Seorang notaris sedang memberikan stempel pada sebuah dokumen penting

Apa itu Akta Otentik?

Menurut Pasal 1868 KUHPerdata, akta otentik adalah sebuah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat. Pejabat umum yang dimaksud contohnya adalah Notaris, PPAT, atau juru sita.

Ciri-Ciri Akta Otentik:

  • Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum (Notaris, PPAT).
  • Memiliki bentuk dan format yang telah ditentukan undang-undang.
  • Memuat tanggal dan tanda tangan para pihak serta pejabat.
  • Mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat.

Contoh: Akta Jual Beli (AJB) tanah, Akta Pendirian PT, Akta Wasiat, Akta Perkawinan.

Apa itu Akta di Bawah Tangan?

Akta di bawah tangan adalah setiap tulisan atau dokumen yang dibuat dan ditandatangani oleh para pihak yang terlibat tanpa campur tangan pejabat umum. Akta ini sengaja dibuat untuk keperluan pembuktian suatu peristiwa atau perjanjian.

Ciri-Ciri Akta di Bawah Tangan:

  • Dibuat oleh para pihak sendiri, tanpa pejabat umum.
  • Bentuk dan formatnya bebas, tidak terikat aturan baku.
  • Hanya ditandatangani oleh para pihak yang berkepentingan.
  • Kekuatan pembuktiannya tidak sempurna.

Contoh: Surat perjanjian sewa-menyewa rumah, surat utang-piutang antar teman, kuitansi pembayaran.

Perbedaan Utama: Kekuatan Pembuktian

Perbedaan paling fundamental antara kedua jenis akta ini terletak pada kekuatan pembuktiannya di mata hukum.

Akta Otentik

Memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna. Artinya, apa yang tertulis di dalam akta dianggap benar oleh hakim selama tidak ada bukti sebaliknya. Pihak yang menyangkal kebenaran akta otentik wajib membuktikan dalilnya.

Akta di Bawah Tangan

Kekuatan pembuktiannya baru muncul jika diakui kebenarannya oleh para pihak yang menandatanganinya. Jika salah satu pihak menyangkal tanda tangannya atau isinya, maka pihak yang menggunakan akta tersebut sebagai bukti harus membuktikan kebenarannya.

Tabel Perbandingan

Aspek Akta Otentik Akta di Bawah Tangan
Pembuat Akta Pejabat Umum (Notaris, PPAT) Para pihak yang berkepentingan
Kekuatan Pembuktian Sempurna dan mengikat Tidak sempurna (perlu pengakuan)
Beban Pembuktian Pada pihak yang menyangkal Pada pihak yang mengajukan akta
Bentuk Formal, ditentukan UU Bebas

Meningkatkan Kekuatan Akta di Bawah Tangan

Untuk memperkuat posisi hukum sebuah akta di bawah tangan, para pihak bisa melakukan legalisasi atau waarmerking (pendaftaran) di hadapan Notaris. Legalisasi mengesahkan tanda tangan, sedangkan waarmerking mencatat keberadaan dokumen pada tanggal tertentu. Namun, ini tidak mengubah statusnya menjadi akta otentik, hanya memperkuat bukti.

Kapan Harus Menggunakan Masing-Masing Akta?

Gunakan Akta Otentik untuk transaksi yang bernilai besar dan memiliki dampak hukum yang signifikan, di mana kepastian hukum adalah prioritas utama. Contohnya, jual beli properti, pendirian perusahaan, atau pembuatan wasiat.

Gunakan Akta di Bawah Tangan untuk perjanjian sehari-hari yang risikonya lebih rendah dan para pihaknya saling percaya. Contohnya, perjanjian utang-piutang sederhana, surat pernyataan, atau kesepakatan internal.

Kesimpulan

Memilih antara akta otentik dan akta di bawah tangan bergantung pada tingkat kepentingan dan risiko dari suatu perjanjian. Akta otentik memberikan jaminan kepastian hukum yang jauh lebih tinggi. Untuk urusan-urusan yang krusial, sangat disarankan untuk melibatkkan notaris dan membuat perjanjian Anda dalam bentuk akta otentik demi melindungi kepentingan hukum Anda di masa depan.

Mila Kumari

Mila Kumari, S.H., M.Kn

Notaris & PPAT Bandung Barat

Berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam bidang hukum notaris dan pertanahan

Artikel Terkait