PPAT 25 Januari 2024 • 7 menit baca

Mengenal Hak Guna Bangunan (HGB) dan Bedanya dengan Sertifikat Hak Milik (SHM)

Saat membeli properti, Anda akan bertemu dengan istilah SHM dan HGB. Memahami perbedaan keduanya sangat krusial karena menyangkut kekuatan hukum dan hak Anda sebagai pemilik.

Sebuah rumah modern dengan taman, melambangkan kepemilikan properti

Apa itu Sertifikat Hak Milik (SHM)?

Sertifikat Hak Milik (SHM) adalah jenis sertifikat dengan kedudukan hukum terkuat dan penuh atas suatu lahan. Pemilik SHM memiliki hak penuh untuk mengelola dan memanfaatkan tanahnya tanpa batas waktu dan dapat diwariskan secara turun-temurun.

Karakteristik SHM:

  • Hak Kepemilikan Penuh: Pemilik memiliki kuasa penuh atas tanah.
  • Tidak Terbatas Waktu: Berlaku selamanya.
  • Dapat Diwariskan: Hak dapat beralih ke ahli waris.
  • Bisa Diperjualbelikan: Dapat dialihkan melalui jual beli, hibah, atau wakaf.
  • Jaminan Bank Terkuat: Paling diakui sebagai agunan kredit.
  • Pemilik: Hanya dapat dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI).

Apa itu Hak Guna Bangunan (HGB)?

Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Tanah tersebut bisa merupakan tanah milik negara atau tanah milik perorangan/badan hukum lain.

Karakteristik HGB:

  • Hak Pakai Terbatas: Hanya berhak atas bangunan, bukan tanahnya.
  • Terbatas Waktu: Memiliki jangka waktu tertentu, umumnya 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun.
  • Wajib Diperpanjang: Jika masa berlaku habis dan tidak diperpanjang, haknya bisa hilang.
  • Bisa Dijadikan Agunan: Dapat dijadikan jaminan kredit, namun nilainya di bawah SHM.
  • Pemilik: Dapat dimiliki oleh WNI maupun badan hukum (PT, Yayasan) dan WNA (dengan syarat tertentu).

Tabel Perbandingan: SHM vs HGB

Aspek Sertifikat Hak Milik (SHM) Hak Guna Bangunan (HGB)
Kekuatan Hukum Tertinggi dan terkuat Lebih lemah, di bawah Hak Milik
Jangka Waktu Tidak terbatas (selamanya) Terbatas (Maksimal 30 tahun, bisa diperpanjang)
Subjek Hak Hanya WNI WNI, Badan Hukum, WNA (bersyarat)
Objek Hak Tanah beserta bangunan di atasnya Hanya bangunan, tanahnya milik pihak lain
Agunan Bank Nilai tanggungan penuh Nilai tanggungan tidak penuh

Bisakah HGB Ditingkatkan Menjadi SHM?

Ya, bisa. Sertifikat HGB dapat ditingkatkan statusnya menjadi SHM. Proses ini umumnya dilakukan di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat. Persyaratan utamanya adalah pemegang hak HGB harus Warga Negara Indonesia (WNI) dan tanah tersebut memiliki luas kurang dari 600 meter persegi.

Langkah-langkah Peningkatan Hak:

  1. Mengajukan permohonan ke kantor BPN setempat.
  2. Melengkapi dokumen persyaratan (Sertifikat HGB, IMB, KTP, KK, SPPT PBB).
  3. Membayar biaya permohonan dan bea perolehan hak (BPHTB).
  4. BPN akan memproses permohonan dan menerbitkan SHM baru.

Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Secara umum, SHM adalah pilihan terbaik karena memberikan kepastian hukum dan keamanan investasi jangka panjang yang maksimal. Namun, properti dengan status HGB seringkali ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau, terutama untuk apartemen atau properti di kawasan yang dikembangkan oleh developer besar.

Jika Anda membeli properti HGB, pastikan Anda memahami sisa jangka waktu haknya dan mempersiapkan diri untuk proses perpanjangan atau peningkatan hak menjadi SHM di kemudian hari.

Kesimpulan

Memahami perbedaan antara SHM dan HGB adalah langkah awal yang bijak sebelum berinvestasi di properti. SHM menawarkan kepemilikan abadi dan hak penuh, sementara HGB memberikan hak guna bangunan dengan batas waktu. Selalu lakukan pengecekan status sertifikat secara teliti dan konsultasikan dengan PPAT untuk memastikan transaksi properti Anda berjalan aman dan lancar.

Mila Kumari

Mila Kumari, S.H., M.Kn

Notaris & PPAT Bandung Barat

Berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam bidang hukum notaris dan pertanahan

Artikel Terkait